Guru 01

GURU 01

31 Juni 2009

Aku masih termangu, menyimak kata mutiaramu

Yang tersampaikan, saat – saat perjumpaan.

“anakku perjuangan adalah proses pembelajaran”

Sepenggal kalimat, butuhkan kearifan berpikir.

Sekelumit tempaan, jadikan makna terinternalisasi

Terpatri dalam laku-langkah, wujudkan kebiasaan.

Selaksa cita, ingin kau harap. Manakala pituturmu tersambungkan  dalam benang merah, yang terekspresi disetiap detak kaki anakmu.

 

Guru,

Aku masih berusaha mengurai kata-katamu.

Kueja penuh peresapan.

Kuulang dengan kesungguhan

Agar kutemukan makna pituturmu.

Tlah kusiapkan kamus, kubuka literatur, kudownload saat on line.

“apakah ini juga bagian dari makna tersimpan pituturmu?

Diantara rangkaian perjuangan, meski aku belum menemukan?”

 

Guru,

Engkau beri aku satu kail.

Kudengar nasehatmu saat perjumpaan diantara kita.

“anakku setenggok ikan tlah lenyapkan kelaparan hari ini. Tapi kau tak tahu akan makan apa esok pagi. Dengan kail ini, engkau akan bisa makan dengan berteggok-tenggok, dan kau bagi pada sanak saudaramu. Saat kelaparan menghentak, engkau akan mengambil kailmu, dan menyapa ikan-ikan di aliran-aliran sekitar:  sembari bergumam. “AKU AKAN MEMAKANNYA. DAN KUBERIKAN  PADA ANAK CUCUKU”.

 

Guru,

Lama makna itu terendapkan dikalbu. Dan kulumat pitutur itu, manakala usia tlah sepadan denganmu. Padahal aku suka membangkangmu. Membuatmu termenung dalam duka.

Wahai guru. Kenapa itu tidak kutemukan kini.

Saat anaku bercerita. Engkau disibukkan cari sertifikasi. Demi kenaikan gaji, biaya konsumtif  anak istri. Butuhkan dana untuk sesuap nasi, engkau jual harga pribadi. Menjemput sekolah tinggi,  demi gengsi.

Kealpaan lebih suka menemani. Dan…kau tak dapatkan aka-apa kini. Kecuali selembar ijasah, tlah jadikan kau merasa hebat sekali. Tlah jadikan manusia yang dikebiri. Lenyapkan jati diri. Padahal kau adalah manusia hebat, dialam jagat. menjelang kiamat, engkau diingat.

Apakah engkau lupa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *