Mengupas

Mengupas

19 Des 2010

Belajar adalah proses tanpa henti.

Setiap jengkal langkah ada makna tersirat,

yang dapat  ditelisik dengan metode ilmiah.

Menjadi lahan  untuk ditemukan, bagi mereka yang miliki kejelian.

Tanpa upaya, semua  hanya menjadi fatamorgana.

Bakal lenyap bersama cinta yang berganti.

 

Satu detik aliran nadi lahirkan berpuluh-puluh  judul untuk diteliti.

Butir-burir darah merah, kadang meradang, menjarah, merendah atau pasrah, semua termonitor manakala dieksekusi.

Rancang bangun model derapkan arah pikir untuk satukan berpuluh konsep, dari para pendahulu, atau geliat mata mencari celah yang terbuka, menggiring satu pikir pada model yang dicari.

Teramat banyak, rujukan harus dibaca, ditelusuri, dipilah, dan disisipkan. Lahirkan temuan yang namanya “hebat sekali”.

Ah! Padahal yang punya makna ini hanya Ilahi.

Yang bersemanyam di Arys Yang Maha Tinggi.

Menjadi kiblat dari seluruh insani, yang dapat di share diseluruh lini,

tertemukan dan jadikan lahan untuk diteliti.

Inilah iktibak manusia yang bernama makluk. Asmaul HusnaNYA telah lahirkan nilai benar dan buruk, agar ditiru dan ditanggalkan. Inipun bisa jadi sasaran. Siapa cepat maka dapat. Siapa lambat akan mundur setahap. Sungguh! Bermilyar-triliun ion-ion otak berlompatan. Menyetrum bagai halilintar. Makna ion-pun dapat jadi sasaran perseteruan, bagi sebagian ahli pikir yang sempatkan diri mampir. Agar tertemukan arti tersimpan, lahirkan harkat-martabat.

 

Satu helai rambut, yang terjatuh pancarkan ragam DNA.

Tlah membuka topeng-topeng yang sempat disembunyikan.

menguak misteri yang meliuk diantara lilitan-lilitan yang belum tertuntaskan detail anekanya.

Karakter terbuka dari lipatan, dapat disambung agar hasilkan ragam kejutan. Ketika masih terparkir di sandaran, pancarkan rajutan nan mempesona.

Pada sisi mana akan mengarah pikir ini?

Pertanyaan peniliti melompat cepat sekali.

Merambah ranah yang belum sempat ditelusuri.

Agar dapatkan predikat peneliti.

 

Itulah episode yang mencuat diantara rentang workshop.

Terikuti bagi mereka akademisi.

Yang berdedikasi, inginkan kemapanan prestasi.

Termotivasi, untuk unjuk diri pada  university yang tengah menggeliat, suguhkan manfaat.

Bagi negeri yang mulai mencari nilai yang kini terlindas, tertindas   pada keterpurukan yang mengada.

Mari!

Sisihkan laku-pikir, berikan jemari tangan, untuk tuntaskan keserakahan, hasilkan nuansa yang dapat dirasakan.

 

 

 

(Catatan saat workshop penelitian hibah di PMI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *