MENIL

MENIL

16 Des 2010

Aku panggil engkau si Menil.

Agar kelak ber-energi dan lincah

Membisikkan nilai-nilai keruhaniahan.

Agar tak bising pada keramaian, kejumudan, kemunafikan.

Kesombongan yang kini telah meliuk dalam periuk kalbu.

Menutupi badan karena telanjur mengenakan tameng badan.

Kemunduran, lahirkan jargon modernitas nan semu.

Otakpun bak dikebiri, tertinggal jauh sekali.

Lupakan harkat dan jati diri. Terlena, terlengah dari prestasi.

Hedonistik merambah diranah-ranah sosial. Menjadi pengawal pada pengikutnya yang banyak menyusul. Bak panglima kebesaran, yang diagungkankan.

Individualistis  menyuarakan kemenangan dipelosok penjuru, digadang-gadang kelak menjadi pembesar negeri. Menutup kebersamaan dibalik tirai kelam.

Kerakusan memenangkan dalam setiap kesempatan. Membalikkan kebersamaan yang dicitakan. Telanjur lebih dulu disimpan di peti dan digelintirkan di kali agar terbiarkan mengalir di laut lepas, yang tak bakal ditemukan kembali.

Rasa hormat ditukar dengan kebencian. Yang merapat di relung-relung sukma. Menggantinya pada laku keseharian. Manusiapun menjadi terlena. Duh..duh..duh…bagaimana dengan anak cucu kita. Akan semakin jauh dan terlena. Akankah terbiarkan dalam waktu yang sangat lama? Kelak menjadi meriam yang mematikan tuannya sendiri, yang tak bakal sempat nikmati nilai abadi. Duh..duh..duh… akan dibawa kemana anak-anak ini? Yang asyik masyuk bersama nyanyian semu, yang bakal melelapkan diri lahirkan anak-anak negeri yang lahap dengan sesaji yang telah tercipta kini.

Mari!

Langkahkan kaki, memagari diri, dari duri-duri yang menghadang kini.

Lanjutkan langkah, pada jalan yang penuh berkah, bersama mari merubah, agar Allah turunkan rahmah.

Jangan biarkan tersesat, yang tak akan membawa selamat.. Hanya kerugian yang didapat, baik dunia maupun akhirat.

Mari bersama kita menuju, pada satu tuju, meraih mahligai kesucian. Hatipun menjadi tentram.

 

Ayo, Menil. Suluhkan api kemenangan, berikan obor itu agar  api semangat menyala pada sejawat, yang engkau ajak agar dapat selamat.

Titipkan pesan-pesanmu, pada ranah sekelilingmu, agar mengikuti langkahmu. Karena inilah harapan, dari setiap pendahulu, yang dulu menjadi keseharian tapak laku, tlah nobatkan bapak – ibu terdahulu, menjadi dapat digugu dan ditiru.

 

Ya Menil.

Jangan tanggalkan harapan-harapanmu.

Sebelum engkau sempat melihat hasilmu.

yang terikuti pada banyak penggemarmu.

Tanpa melepas nilai akademisimu.

Dengan modal ketulusan semua kelak jadi nyata.

Jadilah pejuang pada sebayamu.

Melalui  self asesment dan peer asesment,

yang engkau urai panjang dalam tulisan

yang tak pernah lelah engkau suarakan

yang inginkan tinggalkan kemanfaatan.

Agar nilai pendidikan dapat mengema diseluruh ranah pertiwi

Seperti dulu leluhurmu mengajarkan

Agar tak tertinggal oleh negeri seberang.

Itulah dulu yang pernah digadang-gadang

Oleh nenek monyang, yang gemar bersemboyan

Dengan suara lantang

Melawan Negara yang dulu pernah menyeberang

Yang akhirnya tunggang langgang

Karena berkobar semangat yang menghentak

Dari segenap anak-anak yang inginkan selamat.

 

O Menil. Di era globalisasi ini,

Engkau menyuarakan- kobarkan prestasi

Tanpa pamrih demi kelangsungan negeri

Tak harapkan sanjuangan juga tak gentar hadapi rintangan.

 

(judul disertasi yang batal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *