Sebuah Paradigma

Sebuah Paradigma

20 Des 2010

Analisis fenomena dari bongkahan realita,

terbangun dari banyak variabel.

terkoneksi diantara yang ada.

Duh. Betapa sulit saat harus mencari simpul, dan pangkal.

Oh. Betapa banyak yang harus diurai.

teramat panjang yang harus dipangkas.

Saat merunut benang dan mencari ujungnya,

muatan kearifan dikedepankan ntuk menyimaknya.

 

Fenomena-fenomena tersaji,

dijajagi dari banyak teori, tersimpan pada banyak literature.

Kesan terangkum pada bentang jalan yang terbelah.

aneka perbedaan termunculkan, dari konsep yang tak sama.

Beragam teori, ragam paradikma ditelisik.

Berpospositivistik pada realita. Juga saat ber-Naturalistik pada kemapanan membaca kenyataan.

Bukti empiristik dihubungkan pada angka-angka, agar mudah tersimpulkan.

Ah. Perbedaan paradikma, penelusuran, juga penafsiran.

Penjumlahan, dan perkalian dari angka-angka, adalah perbedaan yang kentara.

Oo…. angin yang berlalu, kutitipkan rindu pada kesamaan paradikma.

agar percik perbedaan tak merajah, yang hanya membentangkan friksi-friksi. Menabuh genderang diskripsi saat memaknai induksi fenomena,  atau juga  angka terakhir yang terekam pada monitor saat merangkumnya.

Mungkinkah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *