Bokashi

BOKASHI

Bokashi adalah kompos yang dihasilkan melalui fermentasi dengan pemberian EM 4  Kata bokashi diambil dari bahasa Jepang yang berarti bahan organik yang terfementasi. Oleh orang Indonesia kata bokashi dipanjangkan menjadi “bahan organik kaya akan sumber kehidupan”.

Larutan EM4 merupakan larutan yang berisi  mikroorganisme seperti :  bakteri fotosintetik, laktobacilus sp (bakteri asam laktat), streptomyces, actinomycetes, yang diisolasi dari sumbernya, dan berfungsi memfermentasi zat organik menjadi kompos.

Pembuatan Bokashi

Tahap – tahap pembuatan bokashi sebagai berikut :

Persiapan

Sebelum proses pembuatan berlangsung, terlebih dahulu perlu dipersiapkan tempat dan bahan – bahannya.

1.      Tempat

Pembuatan bokashi tidak memerlukan tempat khusus. Dalam gudang atau gubuk juga dapat dilakukan. Perlu diperhatikan, proses tersebut tidak terkena matahari maupun hujan secara langsung. Oleh karenaya, tempat pembuatan diusahakan beratap. Alasnya sebaiknya disemen atau diberi ubin, tetapi ini bukan hal yang mutlak. Bila pengomposan dilakukan di atas tanah, sebaiknya diberi alas, misalnya plastik atau dedaunan.

2.      Bahan

Bahan utama (bahan organik) yang dibutuhkan untuk membuat bokashi ada beberapa macam seperti jerami, pupuk kandang, kotoran hewan, rumput, pupuk hijau, sekam, atau serbuk gergaji. Karena bahan pembuatannya sangat beragam maka nama bokashi yang dihasilkan juga bermacam – macam seperti bokashi jerami, bokashi pupuk kandang, bokashi pupuk kandang dan arang, bokashi pupuk kandang dan tanah, serta bokashi ekspres. Bahan organik yang masih hijau akan menghasilkan bokashi yang lebih kaya senyawa organik karena bahan tersebut kaya asam amino dan asam organik yang bermanfaat untuk pertumbuhan Efektif mikroorganisme (EM)

Bahan lain yang mutlak dibutuhkan adalah dedak. Kebutuhan dedak ini sekitar 10% dari total bokashi yang akan dihasilkan. Namun bila bahan organik berupa kotoran hewan (bukan pupuk kandang) maka kebutuhanya lebih banyak, sekitar 15-20%

Sebagai sumber energi atau makanan bagi bakteri, pada tahap awal sebelum proses fermentasi diperlukan molase (tetes tebu). Molase ini dapat diganti dengan gula putih atau gula merah. Dari ketiga bahan tersebut molase lebih baik daripada gula merah dan gula merah lebih baik daripada gula putih. Hal ini dapat dipahami karena molase mengandung asam amino yang lebih baik daripada gula merah dan kandungan asam amino dalam gula merah lebih bagus dibanding dalam gula putih.

Selain dosis di atas, dalam pembuatan bokashi dapat juga digunakan dosis yang umum. Bila akan menghasilkan 1 ton bokashi, dapat digunakan takaran atau dosis: 80% bahan organik, 10% pupuk kandang, 10% dedak, 1 liter EM4, 1 liter molase (1/2 kg gula pasiur atau 1/2 kg gula merah), serta air secukupnya (kadar air 30%)

  1. Larutan EM4 + gula + air dicampur merata
  2. Bokashi jerami : jerami yang telah dipotong – potong + dedak + sekam dicampur merata.
  3. Bokashi pupuk kandang : pupuk kandang + sekam + dedak dicampur merata.

Bokashi pupuk kandang-arang: pupuk kandang + dedak + arang sekam/arang serbuk gergaji dicampur merat.

Bokashi pupuk kandang tanah: tanah + pupuk kandang +arang sekam/arang serbuk gergaji + dedak dicampur merata

Bokashi ekspres: jerami kering (bahan yang lain) + bokashi yang sudah jadi + dedak dicampur merata.

  1. Bahan (b) disiram larutan (a). Pencamputan dilakukan perlahan – lahan dan merata hingga kandungan air kurang lebih 30 – 40%. Kandungan air  yang diinginkan diuji dengan mengenggam bahan. Kandungan air 30 – 40% ditandai dengan tidak menetesnya air bila bahan digenggam dan akan mekar bila genggaman dilepaskan.
  2. Bahan  yang telah dicampur tersebut diletakkan di atas tempat yang keriong atau dapat juga dimasukkan ke dalam ember atau karung. Bila diletakkan di lantai, bahan sebaiknya ditumpuk secara teratur. Tumpukan bahan umumnya setinggi 15-20 cm, tetapi dapat juga hingga 1,5 cm. Setelah itu tumpukan bahan ditutup dengan karung goni atau terpal
  3. Suhu tumpukan dipertahankan antara 40 – 50°C. Untuk mengontrolnya, setiap 5 jam sekali (minimal sehari sekali) suhunya diukur. Apabila suhunya tinggi maka bahan tersebut dibalik, didiamkan sebentar agar suhu turun, lalu ditutup kembali. Demikian seterusnya.
  4. Proses fermentasi ini berlangsung sekitar 4-7 hari, kecuali untuk bokashi ekspres, fermentasi berlangsung 24 jam (1 hari). Apabila bahannya mengandung minyak (seperti minyak kayu putih., nilam, cengkih, ampas kelapa, atau ampas tahu), proses fermentasi berlangsung lebih lama, sekitar 14-29 hari karena dibutuhkan waktu untuk menetralisir minyak tersebut.
  5. Setelah bahan menjadi bokashi, karung goni dapat dibuka. Bokashi ini dicirikan dengan warna hitam, gembur, tidak panas, dan tidak berbau. Dalam kondisi seperti ini, bokashi telah dapat digunakan sebgai pupuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *