Tari Bangilun

Bangilun merupakan seni tari tradisional yang berasal dari Kabupaten Temanggung. Kata Bangilun merupakan akronim dari


B : budaya,
A : aliran,
N : nenek moyang,
G : gerak,
I : Indah,
L : lestari,
U : Untuk,
N : nasional.

 

Bangilun merupakan seni tradisional religius Islami yang berfungsi untuk syiar agama lewat budaya. Bentuk tari Bangilun menyerupai tari Dolalak Purworejo maupun Angguk dari Kulon Progo.

Bangilun terbentuk kira – kira tahun 1900 pada waktu Indonesia masih dijajah Belanda. Penari Bangilun terdiri dari Laki – laki dan perempuan. Kostum yang dipakai dalam pertunjukan Bangilun seperti Celana panji, baju rompi, topi pet, sabuk yang digunakan sebagai properti juga untuk pengaman, sampur dan slempang. Namun juga terdapat kelompok yang sudah modern kostumnya ditambah kain warna – warni juga kaos kaki. Celana panji dan rompi yang digunakan berbahan dasar Bludru. Alat musik yang digunakan dalam pertunjukan bangilun yaitu bedug/jidor, terbang, saron, gong dan yang sudah profesional ditambah musik keybord. Bangilun biasanya dipentaskan sebagai pertunjukan juga hiburan namun pada jaman dahulu digunakan dalam upacara adat saat panen padi.
Di Kabupaten Temanggung Bangilun hanya berkembang di wilayah Kledung, grup tari Bangilun di Temanggung hanya terdapat 5 kelompok diantaranya di Desa Kledung 2 kelompok, Desa Mayongan 1 kelompok, Desa Paponan 1 kelompok, Desa Jeketro 1 kelompok. Sebetulnya ada 6 kelompok akan tetapi 1 kelompok dari Desa Batursari pemainnya sudah tidak produktif lagi dan kaum muda tidak dapat meneruskan kebudayaan ini.
Sekarang 70 % kebudayaan di Temanggung didominasi oleh Jathilan. Oleh karena itu lembaga – lembaga tertentu di Temanggung berusaha membangilunkan kembali bumi Temanggung dengan cara :

  1. Diupayakan lewat promosi kebudayaan
  2. Penampilan bangilun.
  3. Leaflet wisata
  4. Festifal budaya

Lembaga – lembaga tertentu di Temanggung berusaha membangilun-kan kembali bumi Temanggung karena kesenian Bangilun itu kurang memasyarakat sehingga sulit diterima oleh masyarakat yang sudah didominasi oleh Jathilan. Hal ini dikhawatirkan kesenian Bangilun akan diakui oleh Negara Malaysia seperti halnya Batik yang sudah sangat terkenal, apalagi Bangilun yang hanya diketahui oleh sedikit masyarakat. Walaupun sekarang Bangilun sudah dipatenkan oleh dinas Pariwisata Kabupaten Temanggung. Mari kita sebagai kaum muda peduli bangsa dan budaya lestarikalah kebudayaan asli Indonesia.

(Narasumber: Bapak Drs. Didik Nuryanto – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung) dalam https://bakpiapio.wordpress.com/jawa/javanese-culture/seni-tradisional/