Tari Dayakan

Topeng Ireng adalah tarian rakyat kreasi baru yang merupakan metamorfosis dari kesenian Kubro Siswo. Asal muasal mengenai siapa yang menciptakan kesenian Topeng Ireng untuk pertama kalinya belum jelas dan rancu hingga saat ini. Namun, berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat, kesenian Topeng Ireng mulai berkembang di tengah masyarakat lereng Merapi Merbabu dan Sumbing pada tahun 1960-an.

Dayakan merupakan pengembangan dari tarian Kubro Siswo. Perbedaannya adalah pada kostum. Kubro Siswo hanya menggunakan celana kolor dan rompi saja, sedangkan dayakan menggunakan kostum berupa pakaian setengah Dayak dan setengah Indian, yaitu terdapat bulu-bulu di bagian topi. Menggunakan kaos ketat dan dilengkapi dengan Rencong. Gerakannya tidak kalah energik dengan Kubro Siswo.

Seni kebudayaan dayaan/topeng ireng mengisahkan tentang perjuangan seorang pertapa untuk membuka lahan hutan untuk dijadikan sebagai tempat pemukiman, dimana dihutan tersebut terdapat manusia rimba. Seorang pertapa tersebut melawan para manusia rimba dan mengajari mereka untuk hidup sebagai manusia biasa, mengajak mereka membuka hutan, membuka lahan pertanian, dan mengajari seni bela diri.

Kekompakan tari adalah hal yang paling diutamakan oleh para penari topeng ireng ini. Topeng Ireng sering juga disebut sebagai Tari Dayakan, hal tersebut dikarenakan kuluk/ topi yang digunakan hampir sama dengan topi yang dipakai oleh masyarakat suku Dayak. Dimainkan oleh 8 atau lebih pemain.

Nama Topeng Ireng berasal dari kata Toto Lempeng Irama Kenceng yang menata hidup secara baik dengan irama yang dinamis. “Pada masa pendudukan kolonial Belanda, pemerintahan setempat melarang masyarakat berlatih silat sehingga warga Desa Tuk Songo, yang tinggal dekat Candi Borobudur, mengembangkan berbagai gerakan silat itu menjadi tarian rakyat,”Yang jelas tarian itu diiringi dengan musik gamelan dan tembang Jawa yang intinya menyangkut berbagai nasihat tentang kebaikan hidup dan penyebaran agama Islam, lanjutnya. “Jika kita pelajari lagi ,ada filosofi yang mendalam yang terpancar lewat lagu-lagu pengiring dan gerakan-gerakan mereka yang banyak mempunyai arti. Jadi jika menonton Topeng Ireng masyarakat juga jangan terpaku dengan gerakannya saja tapi juga harus bisa mencerna pesan-pesan yang tertuang lewat lagunya.

Sumber: http://desakaloran-temanggung.blogspot.co.id/p/topeng-ireng-tarian-rakyat-kreasi-baru.html