Tari Srandul

Dengan semakin majunya tarian kuda lumping, selanjutnya mereka membuat tarian yang disebut Srandul. Dahulu sebelum agama nasrani masuk, Srandul berati menceritakan  agama Islam  yang semua pengambilannya dari ajaran – ajaran Islam. Pada intinya, Srandul yang menggunakan ajaran Islam tersebut dinamakan Srandul Gatholoco. Semua nyanyian menyebut nama Tuhan (ela elo haellola). Dengan kemajuan tarian tersebut maka diputuskan kemudian hari bahwa Srandul ditampilkan malam hari dengan Senthir sebagai penerang utama dan kuda lumping ditampilkan pada siang harinya.

Srandul merupakan puncak dari tarian atau acara kegiatan pentas. Pada bagian ini, di dalamnya terdapat urutan tarian – tarian yang pada akhirnya menceritakan tentang pertanian. Urutan Srandul tersebut ialah :

  1. Manuk – manuk
  2. Kulak manuk
  3. Kembang
  4. Simbar
  5. Laler ( badut kembar, pemain dua orang )
  6. Simak
  7. Bayungan ( badut kembar, pemain dua orang )
  8. Lenggeran ( pemain perempuan )
  9. Cepuk ( sebagai semua puncak tarian sekaligus pelawak )
  10. Lengger menari dengan cepuk
  11. Cepuk ditinggal lengger karena cepuk berbohong tidak membayar lengger menari
  12. Lengger membawa pergi pakaian cepuk
  13. Cepuk ( kesedihan Cepuk )
  14. Perawan Sunthi ( kisah Srandul  sebenarnya )
  15. Masa pertanian (kisah cepuk sebagai orang yang mengabdi untuk membantu masyarakat dalam bertani, dari awal pertanian sampai dengan akhir masa pertanian). 

Jadi, semua adegan tarian Srandul terbagi atas 15 tarian dengan 8 tarian awal disebut sebagai Badut Ngarep ( Badut Depan ).

Sumber: http://blogariesztmyhistories1.blogspot.co.id/2015/05/asal-usul-kesenian-kuda-lumping-dusun.html