Dasar Pemikiran

DASAR PEMIKIRAN

Allah menciptakan alam semesta ini tidak ada yang sia-sia (Al Qur’an). Manusia melalui akal-fikirannya dituntut menggali dan mengembangkan agar dapat memberikan kemanfaatan baik bagi dirinya sendiri juga masyarakat dan bangsa. Indonesia sangat kaya dengan potensi Suber Daya Alam (SDA) yang dimiliki. Setiap daerah memiliki potensi yang beragam dan berbeda antara satu daerah dengan lainnya.

Persoalan yang dihadapi oleh bangsa indonesia sekarang ini adalah selalu meningkatnya jumlah pengangguran. Baik sarjana, diploma apalagi lulusan SLTA. Dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan. Persoalan ini harus segera diatasi dengan berbagai strategi, terutama strategi pembelajaran di kelas. Pendekatan yang dilakukan dalam proses pembelajaran diarahkan pada pembelajaran active learning,atau pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered approach). Guru dituntut untuk selalu mengkreasi
proses pembelajaran agar bermakna dan membekas. Diantaranya melalui implementasi model-model pembelajaran, sehingga peserta didik memiliki antusiasme yang tinggi untuk belajar. Karena pada hakekatnya belajar tidak pernah berhenti sampai ajal tiba.

Melalui Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan  (KTSP), guru dalam setiap sekolah dituntut untuk menyusun kurikulumnya sendiri. Untuk mewujudkannya sekolah dituntut untuk mengkomunikasikan dan berkolaborasi dengan masyarakat. Harapannya dapat diperoleh kata sepakat, bahwa persoalan pendidikan pada hakekatnya adalah persoalan bersama seluruh bangsa Indonesia. Berkenaan dengan otonomi daerah, maka peran Bupati/walikota menjadi sangat berarti.  Seluruh potensi daerah didayagunakan sebagai laboratorium dan sumber pembelajaran. Tujuan dari konsep ini adalah agar generasi penerus didaerah memiliki kemampuan untuk mengenal dan mengelola potensi daerah secara mandiri, kreatif dan produktif. Pemerintah melalui program pendidikan yang sekarang dikembangkan dengan memanfaatkan keunggulan lokal dan kebutuhan daya saing global, diharapkan dapat ikut memberikan kontribusi penyelesaian masalah yang ada.

Berdasarkan pemikiran diatas, ditemukannya beberapa permasalahan: 1) guru dituntut untuk dapat menerapkan pembelajaran “active learning; 2) Potensi daerah belum optimal dijadikan sebagai laboratorium, sumber belajar, sumber informasi, dan sarana penelitian; 3) implementasi KTSP yang merupakan kewenangan sekolah untuk menyusun sendiri kurikulumnya, diharapkan dapat mengoptimalkab potensi  melalui pebelajaran bermakna; 4) konsekwensi otonomi daerah, agar pemerintah mengakomodir potensi daerah untuk diimplementasikan pada proses pembelajaran yang bermakna, belum optimal, melalui sinergitas potensi SDM yang dimiliki; 5) proses pembelajaran seperti apa yang dapat disusun agar dapat meminimalisir jumlah pengangguran yang selalu mengalami peningkatan.

Realisasi konsep diatas adalah, melalui model pembelajaran “WISATA LOKAL”. Harapannya seluruh komponen daerah: sekolah, Pemda, dan masyarakat, memiliki kepedulian yang sama untuk mengembangkan potensi  daerah. Melalui  pembelajaran yang berulang-ulang, diharapkan akan memunculkan fanatisme yang kuat, karakter akan terbentuk, menumbuhkan kecintaan terhadap potensi daerah yang ada, memunculkan kreativitas baik pada guru maupun peserta didik.

Pendekatan pembelajaran pada kurikulum tahun 2013, dilaksanakan melalui metode saintifik. Tahapan metode saintifik meliputi  proses  observasi,  menanya,  mengumpulkan  informasi,  asosiasi, dan komunikasi. Metode saintifik sangat erat dengan proses konstruksi siswa dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki dan diketahui. Selain itu  lebih menekankan pemberian pengalaman, menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah (saintifik). Penguatan potensi lokal/daerah yang didayagunakan untuk pembelajaran sangat relevan. Melalui model pembelajaran “Wisata Lokal”, baik guru dan peserta didik akan memiliki kepedulian yang sama, untuk menggali, mengolah dan memanfaatkan potensi daerah bagi kehidupan dan kepentingannya. Hal ini memberikan suatu gambaran bahwa nilai-nilai karakter sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kurikulum 2013, menjadi sangat memungkinkan untuk dikembangkan. Fase-fase sintaks dalam model pembelajaran “Wisata Lokal” memberi peluang terlaksananya metode saintifik, serta keterlakanaan penilaian otentik. Guru memperoleh informasi penilaian dari aktivitas peserta didik saat menanya, memperoleh informasi potensi daerah, kegiatan diskusi, presentasi, dan menyusun kesimpulan, melalui berbagai teknik penilaian, baik tes maupun non tes.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *