Selayang Pandang

Potensi Daerah

23 okt 2010

Fanatisme. Merangkai konsep-konsep,

tertata rapi dari bongkahan yang masih berserakan.

Tercecer karena tak ada yang sempatkan diri menyusunnya.

Membiarkannya tergeletak, tak terjamah.

Jangankan tersentuh; melihatnyapun terasa enggan.

Berpaling, dan ngacir tak peduli.

Cinta, bersemailah didada-dada, dari manuasia yang suka berkelakar.

Cinta. Kedarung bertengger di pucuk-pucuk kepala yang penuh sesak rumus-sumur kekinian.  Tak pernah mencobanya menjadikan cinta kesejukan, yang menggema dipelosok negeri.

Mimpi-mimpi  telah salah dijumlahkan, keliru dengan bilangan pengalinya, tentu tak hasilkan nilai yang sempurna, jika dibagi oleh bilangan nol, yang kalau di akarkankan akan hasilkan nilai nol.

Cinta. Buah kesejukan jika dilafalkan, meski dieja dengan lirih, hasilkan kemaknaan yang menancap di lubuk hati. Bersarang dalam waktu yang lama, kemudian terkubur bersama jasad. Meski telah tiada, cinta merambah sendiri, mencari persinggahan, meski tak pernah diminta oleh sang empu.

Adakah cinta ini, pernah engkau rindu?

Semangat. Hanya milik segelintir manusia, yang tak pernah menghitung waktu. Tak dibiarkanya tersia-sia. Tak harapkan tercampak diam. Tak juga ingin dihitung-hitung.  Semilirnya angin waktu, mengubah kesejukan mengisi rongga-rongga keberkahan. Mengantarkan pada keabadian sebagai I’tibak Rasul yang menempatkan nilai pada jasad yang kelak akan abadi setelah kehidupan ini.

Kesempatan masih ada, tersisa untuk  diukur dengan pahat desain grafis, dan terpampang di monitor jagat.

Menjemputlah …..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *